Otak Pria Lebih Besar tapi belum Tentu Lebih Pintar

Otak bayi baru lahir memiliki berat delapan persen dari total bobot
tubuh. Namun ketika dewasa, berat otak menyusut menjadi dua persen.
Lalu, siapakah yang lebih pintar, perempuan atau laki-laki?
Dikatakan dr Dwi Putro Widodo, SpA(K), Kepala Divisi Nerologi Departemen
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ukuran
otak perempuan sudah mencapai puncaknya pada usia 10,5 tahun. Sedangkan
laki-laki mencapai puncak perkembangan otak di usia 14,5 tahun.
Pada perkembangannya, otak laki-laki memiliki ukuran 8-10 persen lebih
besar dibanding otak perempuan. Tapi otak perempuan berkembang lebih
cepat dibanding otak laki-laki. Masa perkembangan yang lama itu membuat
otak laki-laki jadi sedikit lebih besar. Namun juga terbuka peluang
laki-laki mengalami berbagai kelainan otak karena lambatnya perkembangan
tersebut, misalnya autisme.
Dikatakan Dwi, otak laki-laki lebih mengembangkan kemampuan visualisasi.
Sedangkan perempuan lebih cenderung mengembangkan keterampilan wicara
karena terdapat kemampuan itu di otak kiri dan kanan. Sementara,
laki-laki hanya memproses kemampuan bahasa di otak kiri.
“Itulah alasan kenapa anak perempuan sudah cenderung aktif secara verbal
dibanding laki-laki sejak usianya sekitar 10 tahun,” ujar Dwi dalam
temu media yang diselenggarakan Mead Johnson di Jakarta, Kamis (29/11).
Meskipun ‘kalah’ di bidang bahasa, namun laki-laki memiliki keunggulan
di bidang imajinasi dan visualisasi, misalnya mereka lebih baik dalam
memproses informasi visual serta membayangkan susunan bentuk tiga
dimensi. Laki-laki juga memiliki kemampuan navigasi atau pemetaan yang
lebih unggul. Jadi tidak mengherankan pria lebih jago dalam membaca arah
jalan dibandingkan perempuan.
Otak sudah diprogram secara genetik untuk berkembang secara rapi,
teratur, dan bertahap sesuai umur kronologis. Masing-masing area di otak
mempunyai kurva pertumbuhan sendiri dan saling berhubungan.
Perkembangan itu sangat erat kaitanya dengan perkembangan intelektual.
Ditambahkan Doktor Bidang Ilmu Kedokteran FKUI 2012 itu, meskipun ukuran
otak pria lebih besar, namun bukan jaminan menjadi lebih pintar.
Buktinya, saat ini jumlah perempuan yang berhasil menempuh pendidikan
tinggi dan sukses secara akademik cenderung lebih banyak ketimbang
laki-laki. “Selain genetik, faktor kecerdasan juga dipengaruhi faktor
lingkungan dan nutrisi,” ujarnya.
Dalam 1.385 hari pertama kehidupan anak adalah masa kritis yang akan
mempengaruhi dan menentukan tumbuh kembang anak. Saat lahir, otak anak
hanyalah 25 persen (kira-kira 300 gram) dari rata-rata otak saat dewasa.
Saat usianya mencapai tiga tahun, otak anak berkembang dramatis dengan
memproduksi jutaan sel, koneksi (sinaps) di antara sel-sel tersebut.
Terdapat dua tahap utama dalam proses perkembangan otak anak, kata Dwi,
yaitu tahap produksi sel otak dilanjutkan tahap transmisi sel otak, yang
juga dikenal sebagai proses diferensiasi korteks.
Tahap pertama merupakan produksi sel otak yang membentuk koneksi sel,
yaitu sinaps, penghubung antara dua ujung sel otak yang berbeda. Sebagai
jembatan penghubung, sinaps memungkinkan sel-sel otak tersebut saling
mengirimkan sinyal alias berkomunikasi.
Tahap kedua, dijelaskan Dwi, adalah diferensiasi korteks, di mana
komunikasi sel-sel otak mengalami penyampaian pesan (transmisi) antar
sel-sel otak. “Semakin sering otak distimulasi pada tahap ini akan lebih
baik. Satu sel saraf otak dapat mencapai 2500 jaringan sel otak. Proses
ini berkembang paling pesat pada anak-anak dan berlangsung hingga
seumur hidup,” tutur Dwi. Saat bayi berusia 2-3 tahun, sinaps-nya
meningkat menjadi 15.000 sambungan per sel otak.
Pertumbuhan otak bayi ini dipengaruhi oleh 3 hal utama, yaitu faktor
genetik, nutrisi dan pengalaman (stimulasi/rangsangan). Dari ketiga
faktor tersebut, faktor genetik adalah yang paling sulit diubah.
“Mengoptimalkan pertumbuhan otak bayi hanya bisa dilakukan lewat
pemberian nutrisi yang baik dan menambah pengalaman,” tutur Delegasi
Indonesia untuk Asian Oceanean Child Neurology Association.
Rangsangan, dikatakan Dwi, merupakan faktor penting untuk kelangsungan
hidup sel otak dan proses sinapsis. "Sel otak yang jarang distimulasi
jaringan saraf atau sinapsnya menghilang. Jadi, rangsangan mutlak
dilakukan untuk optimalisasi perkembangan otak anak," tegasnya.
Terkait dengan hal itu, sel otak sangat butuh proses pengulangan agar
jaringan sinapsnya kuat dan bertahan lama.Proses belajar berdasarkan
pengulangan dapat membentuk memori jangka pendek atau jangka panjang.
"Penting melakukan pengulangan untuk mengasah memori otak," lanjut Dwi.
Selain rangsangan, nutrisi juga penting untuk mengoptimalkan
perkembangan otak, misalnya DHA, yang terdapat dalam air susu ibu, juga
ikan laut seperti salmon. (Go4/RRN)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar